Sabtu, Juni 12, 2021
Beranda Profil Atlet Tenis Meja Indonesia Berprestasi

Atlet Tenis Meja Indonesia Berprestasi

Simak sekelumit kisah para atlet tenis meja Indonesia berprestasi dan terkenal, agar kamu tidak hanya tahu teori dan cara memainkan tenis meja, tetapi juga mengidolakan atlet-atletnya dalam hal kepiawaian bermain tenis meja dan menjadi orang yang berprestasi.

Berikut biodata/profil pemain tenis meja Indonesia berprestasi yang kehebatannya diakui dunia, pernah membawa nama harum Indonesia di kancah tenis meja Internasional.

1. Sugeng Utomo Suwindo

Sugeng Utomo Suwindo
Artikel di sebuah majalah yang memuat tentang Sugeng Utomo Suwindo, atlet tenis meja berprestasi Indonesia

 

Sugeng Utomo Suwindo adalah petenis meja era tahun 1970-an. Prestasinya antara lain adalah 10 besar tunggal dunia pada tahun 1969, 5 besar tunggal Asia pada tahun 1970, 8 besar ganda Kejuaraan Dunia pada tahun 1975, dan 6 besar ganda dunia pada tahun 1975.

Sugeng Utomo, lahir pada tanggal 17 Oktober 1947 di Banyuwangi. Kini Sugeng menggembleng para petenis muda di klubnya. Meskipun sudah tidak lagi bermain tenis, tetapi semangat untuk melahirkan generasi baru tenis meja tidak pernah hilang.

Sampai-sampai dia pernah terobsesi untuk memiliki pusat latihan untuk anak dan remaja. Obsesinya tersebut sedikitnya telah terwujud dalam bentuk klub tenis meja yang didirikannya.

Dari Sugeng Utomo, kamu dapat mencontoh semangatnya yang tidak kunjung padam. Sejak usia muda hingga masa pensiunnya sebagai atlet tenis meja, cita-citanya tidak berubah. Dia ingin membentuk generasi baru atlet tenis meja.

Tidak banyak orang yang memiliki impian yang konsisten seperti Sugeng Sutomo. Orang yang konsisten akan fokus dengan yang sedang dikerjakannya.

2. Anton Suseno

Anton lahir di Indramayu pada tanggal 15 Desember 1971. Prestasi yang pernah diraihnya antara lain adalah dua medali emas Sea Games 1991, satu medali emas Sea Games 1993, serta lolos Olimpiade tahun 1992, 1996, dan 2000.

Andaikan dulu kamu sudah lahir, dan berkesempatan melihat Anton Suseno berlaga di cabang tenis meja, rasanya luar biasa.

Namanya dikenal di era tahun 1990-an. Bukan di dalam negeri saja dia terkenal, tetapi juga di luar negeri, baik Asia Tenggara, Asia, juga Eropa.

Di dalam negeri, prestasinya memang tidak sempat sampai puncak. Namun, ia selalu menjadi salah satu anggota tim pada saat Indonesia bermain di luar negeri, baik untuk Sea Games, Kejuaraan Asia, ataupun Kejuaraan Dunia.

Dalam permainan beregu, Anton kerap menjadi penentu kemenangan bagi regu putra Indonesia.

Gaya bermainnya memiliki ciri khas yang jarang dimiliki oleh pemain-pemain kita sekarang. Anton bermain defensif, alias bertahan.

Gaya Anton memang kerap mengundang decak kagum. Bukan saja atlet-atlet Asia Tenggara saja yang setiap kali ada kejuaraan internasional selalu menanyakan keberadaan Anton. Bagi mereka bukan soal kalah-menang, tetapi mereka sangat terkesan dengan gaya permainan yang diperagakan Anton.

Anton sempat bepergian ke luar negeri untuk menempa kemandirian dan kemampuannya.

Dari kisah Anton, apa yang dapat kamu contoh? Satu hal yang dapat kamu contoh adalah tentang ciri khas dirimu. Anton memiliki ciri khas dalam permainannya sehingga dia dikenal karena ciri khasnya tersebut.

3. Diana Wuisan

Diana Wuisan Tedjasukmana lahir di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1951. Diana dikenal sebagai atlet tenis meja nasional andal pada masanya, yakni pada tahun 1980-an.

Sekarang dia dikenal sebagai pembina dan pengurus tenis meja bertangan dingin. Sebagai atlet, Diana beberapa kali menjadi juara nasional. Dia juga beberapa kali pula mewakili Indonesia pada Sea Games, Kejuaraan Asia, bahkan Kejuaraan Dunia.

Banyak medali mulai dari perunggu, perak, bahkan emas berhasil diraihnya dalam berbagai kejuaraan tersebut. Prestasinya antara lain adalah meraih satu medali emas Sea Games 1979, tiga emas di Sea Games 1981, dan dua emas Sea Games 1983.

Pada pertengahan 1980-an, Diana dipercaya membina PTM Sanjaya Kediri, yang dalam perjalanannya berganti nama menjadi PTM Surya Gudang Garam Kediri.

Di tangannya, atlet atlet PTM Surya Gudang Garam Kediri mengalami prestasi yang luar biasa. Dimulai dari era Ling Ling Agustin, Rossy Syechabubakar, Putri Hasibuan, Fauziah Yulianti, hingga Christine Ferliani dan Silir Rovani.

Di bagian putra, keperkasaan PTM Surya Gudang Garam Kediri mulai diperhitungkan sejak masa M. Al Arkam, Ersan Susanto, Deddy Da Costa, hingga Moh. Hussein dan Ficky Supit Santoso. Semua itu tidak lepas dari sentuhan program dan pembinaan Diana Wuisan.

4. Sinyo Supit

Sinyo Supit mempunyai nama asli Yap Mien Fong. Dia lahir pada tahun 1959. Sinyo adalah bintang tenis meja nasional di masanya. Sinyo mengenal tenis meja dari ayahnya.

Dia mulai menekuni serius berlatih pada usia 10 tahun di bawah bimbingan ayahnya. Di rumahnya ada meja untuk berlatih tenis meja. Sinyo Supit kemudian masuk Klub Shuang She di Surabaya. Di sana dia digembleng selama empat tahun dengan karakter penyerang.

Karier Sinyo sebagai atlet mencuat ketika dia menduduki posisi delapan besar dalam Kejurnas di Semarang pada tahun 1974. Dia kemudian juga menjuarai Kejuaraan Tenis Meja Junior di Palembang pada tahun 1975. Sinyo kemudian terpilih menjalani latihan selama tiga tahun di Yugoslavia.

Menjelang keberangkatan ke Yugoslavia, Willy Waroka pengurus PTMSI mengganti nama Yap Mien Fong menjadi Sinyo Supit. Nama Sinyo Supit ini terus dipakai sampai sekarang.

Di Yugoslavia, Sinyo bersama tiga rekan Indonesia dilibatkan dalam program latihan pemain nasional Yugoslavia. Sinyo masuk dalam golongan 12 besar ketika awal datang ke Yugoslavia. Kemudian peringkatnya masuk lima besar dan sempat menjadi juara kompetisi lokal di tahun 1977.

Sekembalinya dari Yugoslavia, Sinyo memperkuat tim nasional tenis meja Indonesia selama satu dekade, yaitu pada tahun 1977 sampai 1987.

Dalam even Asian Games 1978, Sinyo dan Empie Wuisan menghadapi kompetisi yang ketat di cabang yang senantiasa didominasi petenis meja dari Asia Timur. Mereka berhasil meraih medali perak.

Selanjutnya, Sinyo meraih medali emas dalam Sea Games 1979 di nomor ganda putra bersama pasangannya, Empie Wuisan.

Dua tahun berikutnya, Sinyo mempertahankan prestasinya dengan kembali meraih medali emas di nomor ganda putra bersama pasangannya, Tony Meringgi.

Puncak prestasi Sinyo adalah tahun 1983. Pada tahun tersebut, Sinyo meraih dua medali emas di nomor tunggal putra dan ganda putra bersama Sugiarto.

Bakat yang dimiliki Sinyo mengalir ke anak keduanya, Ficky Supit Santosa, yang ikut dalam timnas untuk membela Indonesia di ajang Asian Games 2018.

Begitu banyak prestasi yang diraih Sinyo Supit. Namun, hal itu tidak menjadikannya berpuas hati. Dia ingin generasi tenis meja selanjutnya meneruskan semangat dan berprestasi lebih dari padanya.

5. Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar

Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechbubakar lebih dikenal sebagai Rossy Pratiwi Dipoyanti atau Rossy Syechbubakar. Rossy lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 28 Juni 1972. Dia adalah anak pertama dari enam bersaudara.

Kecintaan Rossy terhadap tenis meja bermula ketika ayahnya, Ali Umar Syechabubakar, bermain di halaman rumahnya. Rossy kemudian diperkenalkan kepada dunia tenis meja sejak kelas II SD oleh ayahnya.

Dia mengawali karier bermain tenis meja dari perlombaan-perlombaan antar kampung. Pada saat kelas IV SD, dia masuk Klub Triple V. Di sana dia kemudian mengenal Diana Wuisan, salah satu atlet tenis meja legendaris Indonesia.

Diana yang melihat Rossy berpotensi besar mengajaknya masuk ke Klub Persatuan Tenis Meja Sanjaya Gudang Garam di Kediri. Atas dukungan orang tuanya, Rossy kemudian meninggalkan tempat kelahirannya, Bandung, karena harus tinggal di asrama Gudang Garam, Kediri, hingga lulus.

Pencapaian tertinggi selama kariernya di dunia tenis meja adalah ketika dia menduduki peringkat dunia ke-17 pada nomor tunggal putri dan ganda putri bersama Ling Ling Agustin pada Olimpiade Musim Panas 1992 di Barcelona.

Selain itu, Rossy berhasil mengumpulkan 13 medali emas, 8 medali perak, dan 8 medali perunggu selama kariernya sepanjang tahun 1987 sampai 2001 pada Pesta Olahraga Asia Tenggara [Sea Games].

Selain itu, dia juga berhasil mengumpulkan 7 medali emas, 7 medali perak, dan 9 medali perunggu selama kariernya sepanjang tahun 1985 sampai 2008 pada Pekan Olahraga Nasional.

Pada Pesta Olahraga Asia Tenggara 1989 di Kuala Lumpur, Malaysia, Rossy yang saat itu bermain sebagai atlet tenis meja Indonesia dari nomor tunggal putri memilih walkout atau keluar dari pertandingan di final melawan atlet tuan rumah pada tanggal 25 Agustus 1989.

Hal tersebut dikarenakan ada dugaan kecurangan sang wasit, Goh Kun Tee asal Malaysia, yang memberikan angka gratis kepada atlet tuan rumah. Padahal, bola pukulan Rossy menyambar tipis bibir meja, tetapi wasit mengatakan keluar dan memberikan angka bagi lawan Rossy, Leong Mee Wan.

Ketua Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia saat itu, Ali Said yang berada di arena pertandingan langsung menginstruksikan atlet dan ofisial tenis meja Indonesia untuk mengundurkan diri.

Yap Yong Yih sebagai wasit kehormatan kemudian melaporkan kejadian itu kepada panitia penyelenggara Sea Games.

Meskipun pada akhirnya Goh Kun Tee mengubah keputusannya setelah berdiskusi dengan asisten wasit Cyril Sen, tetapi hal tersebut tidak berarti apa-apa karena Rossy dan ofisial tim sudah terlanjur meninggalkan pertandingan. Hasilya, Leong Mee Wan tetap diputuskan mendapat emas, sedangkan Rossy mendapat medali perak.

Pada Olimpiade Musim Panas 1996 di Atlanta, Rossy tampil di nomor tunggal putri dan menduduki peringkat ke-49.

Meskipun dia gagal membawa pulang medali, tetapi Rossy tetap bangga karena dipercaya menjadi pembawa obor Olimpiade bersama atlet lari Ethel Hudson. Mereka ikut membawa obor dengan berlari sepanjang rute 500 meter sebagai wakil dari Indonesia.

Setelah pensiun pada tahun 2009, sepanjang tahun 2010 sampai 2014 Rossy aktif sebagai pelatih tenis meja nasional.

Rossy dipercaya melatih tim nasional tenis meja putri Indonesia pada Sea Games XXVI tahun 2011 di Palembang dan melatih tim nasional tenis meja prakualifikasi Olimpiade di Bangkok, Thailand, pada tanggal 4 sampai 5 Februari 2012.

6. Jason Georly

Jason Georly terlahir dengan kondisi Cerebral palsy sehingga tangan kirnya berfungsi dengan cara yang berbeda.

Meski begitu, penampilan Jason sebagai pemain tenis meja berhasil mencuri perhatian tokoh petenis meja senior Tanah Air.

Meski Jason memiliki keterbatasan fisik, dia membuktikan diri dapat menjadi salah satu atlet para-tenis meja andalan Indonesia. Jason ikut bertanding dalam ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta.

Walaupun gagal menyabet medali, Jason tampil memukau dan berhasil lolos ke perempat final tunggal putra para-tenis meja,

Jason Georly mengaku mencintai tenis meja berkat sang ayah yang juga pemain tenis meja nasional, George Wahyu. Dia sudah mengenal tenis meja sejak duduk di kelas 3 SD. Karena bakatnya yang terarah itulah, ia beberapa kali memenangi kejuaraan internasional seperti meraih medali perak di ajang Asean Para Games 2017 Malaysia.

7. Ficky Supit Santosa

Ficky Supit Santosa
Ficky Supit Santosa / top.skor.id

Ficky Supit Santosa lahir di Jakarta pada tanggal 2 Agustus 1990. Dia terkenal karena sukses menyabet dua medali perunggu di ajang Sea Games Malaysia 2017.

Ficky tinggal di Kediri. Sejak duduk di bangku kelas 4sekolah dasar, dia mengaku senang dengan olahraga tenis meja lantaran sering melihat ayahnya berlatih.

Bakat menjadi pemain tenis meja profesional memang didapatkannya dari sang ayah, yang merupakan mantan atlet tenis meja dan kerap mendapatkan medali emas di ajang olahraga internasional. Ayahnya adalah Sinyo Supit.

Memiliki bakat turunan dari orang tua, tidak membuat Ficky dapat dengan mudah menyandang gelar juara. Terbukti saat pertama kali diberi kesempatan mengikuti pertandingan di ajang Kejurda tingkat pemula tahun 2002, ia gagal meraih angka dan terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Pengalaman tersebut mendorong Ficky untuk lebih serius lagi berlatih. Setelah dua tahun digembleng, dia akhirnya berhasil menyabet dua medali sekaligus di ajang kejuaraan tenis meja setingkat Asia Tenggara tahun 2004 silam. Medali emas untuk ganda, dan medali perak untuk tunggal.

Ficky mengaku ingin selalu belajar hal-hal baru dan terus berlatih untuk mewujudkan cita-citanya menjadi juara di Sea Games 2019. Dia pun rajin menabung untuk masa depannya. Uang bonus yang didapatnya setelah memenangkan medali perunggu di Sea Games 2011 pun telah dipergunakannya untuk membeli rumah.

***

Meraih sebuah impian, misalnya impian meraih medali emas dalam kejuaraan tenis meja, memang bukan hal yang mudah.

Meski demikian, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil jika dalam proses meraihnya selalu diikuti dengan niat dan kesungguhan.

WAJIB BACA