Minggu, September 26, 2021
Beranda Sejarah Sejarah Singkat Tenis Meja

Sejarah Singkat Tenis Meja

Sejarah asal usul permainan tenis meja ini hampir sama dengan kebanyakan permainan olahraga lainnya yang memakai raket, yakni pada awalnya hanya dikenal sebagai permainan dan hiburan ringan di masyarakat.

Tetapi mengenai asal mula permainan tenis meja, sejak kapan dan oleh siapa yang pertama kali menciptakannya, dapat diketahui dari beberapa sumber bacaan berikut ini.

Asal Usul Permainan Tenis Meja

Asal Usul Permainan Tenis Meja

  1. Pada zaman manusia purba, di Iran telah memainkan sebuah permainan yang menggunakan sebatang kayu sebagai pemukul bola tang terbuat dari usus binatang yang telah diisi angin.
  2. Pada abad ke-12 Bangsa Perancis telah menyukai permainan tenis meja, di mana bolanya dibuat dari kertas diktat yang dipukul dengan tangan.
  3. Sejak zaman purba Bangsa Indian telah memainkan permainan yang menyerupai tenis meja. Bola yang dipakai serupa dengan bola bersayap bulu, pemukul yang digunakan adalah kayu yang dibungkus dengan kulit binatang menjangan.
  4. Berbagai sumber menyebutkan bahwa olahraga permainan tenis meja asalnya dari Inggris. Permainan ini muncul dari permainan kuno pada abad pertengahan  yang disebut seperti “gossima” dan “whiff-whiff“. Kemudian permainan ini berkembang lagi, di antaranya oleh angkatan bersenjata Inggris yang berada di India.

Ada juga, para opsir di daerah koloninya di Afrika Selatan yang biasa memainkan permainan tenis meja sebagai hiburan saat waktu senggang mereka.

Meja yang dipakai adalah meja tanpa memiliki ukuran tertentu dengan sebuah net atau jaring pada bagian tengah-tengahnya, yang dipasang sejajar dengan ujung meja yang dipakai.

Jaring yang dipakai terbuat dari tali sepatu boat atau atau seperti perban pembungkus yang diikat ujungnya pada dua buah kursi yang ditempatkan di kedua sisi bagian tengah meja tersebut.

Sementara itu alat pemukul yang digunakan adalah sebilah kayu yang telah dipotong menurut bentuk sehingga menyerupai raket yang digunakan seperti saat ini.

Pada saat itu pemukulnya diberi nama Vellum racket, yaitu alat pemukul pada permainan tenis meja yang mirip alat pemukul pada permainan tenis. Serta bola yang dipakai adalah bola yang dipakai pada permainan tenis, yakni pukul memukul secara langsung.

Perkembangan Tenis Meja Dunia

Perkembangan Tenis Meja Dunia

Di akhir tahun 1880, bola karet yang dilapisi dengan kulit yang dirajut diganti bola celluloid. Pada tahun 1990, permainan tenis meja disempurnakan oleh beberapa negara Eropa bagian barat.

Pada tahun 1903, dibuat suatu ketetapan  atau peringatan kepada para pemain tenis meja atas penggunaan busana malam bagi pria dan wanita dalam latihannya.

Selain itu, juga diberikan penjelasan dan petunjuk mengenai teknis terperinci mengenai karet bintik, pegang penhold, dan taktik permainan. kemudian olahraga permainan ini semakin populer pada tahun 1905, E. C. Goode dari London mengenalkan raket kepada khalayak dengan permukaan berupa karet.

Atas prakarsa Dr. George Lehmen dari Jerman pada tanggal 15 Januari 1926, terbentuk sebuah organisasi Internasional Table Tenis Federation yang kemudian disingkat ITTF, Hown Ivor Montagu dari Inggris yang menjadi presiden pertamanya. Negara-negara yang menjadi anggotanya saat itu adalah:

  1. Inggris
  2. Polandia
  3. Jerman
  4. Swedia
  5. Perancis
  6. Cekoslowakia
  7. India, dan
  8. Jepang.

Bertempat di Memorial Hall, Farringdon Street, di akhir tahun itu juga diadakan kejuaraan Eropa dengan peserta:

  1. Denmark
  2. Cekoslowakia
  3. Austria
  4. Inggris
  5. Hungaria
  6. Jerman
  7. Swedia
  8. Wales
  9. India

Pada 12 Desember 1926, disepakati anggaran dasar dan peraturan permainan, sedangkan kejuaraan yang tadinya antar negara Eropa dijadikan atau dianggap sebagai kejuaraan tenis meja pertama tingkat dunia.

Kemudian di tahun 1939, sebanyak 28 asosiasi dari negara-negara terdaftar sebagai anggota ITTF. Sejak kejuaraan tenis meja dunia pada tahun 1926, selanjutnya untuk setiap tahunnya diadakan sekali hingga yang ke-13 pada tahun (1938), kemudian hingga tahun 1945 kejuaraan tidak dapat diselenggarakan karena terganggu perang dunia.

Pada tahun 1946, kejuaraan dunia yang ke- 14 kembali diadakan, kali ini berlokasi di Paris (Perancis). Selanjutnya diadakan berkala setiap dua tahun sekali.

Pada tahun 1946, pertama kali diadakan pertemuan umum (general meeting) selama berlangsungnya kejuaraan dunia ke – 14 di Paris. Pada tahun 1967, presiden ITTF, Hon Ivor Montagu mengundurkan diri dari presiden ITTF dan digantikan oleh H. Roy Evans dari Wales.

Tahun 1976 bulan Maret, ITTF mengangkat sekjen profesional yang tidak dipilih oleh general meeting yang berkantor di St. Leonards On Sea di Inggris.

Pada bulan November 1977, Komite Olimpiade Internasional IOC mengakui cabang olahraga tenis meja sebagai cabang olahraga Olimpiade dengan ITTF sebagai satu-satunya induk organisasi internasional yang mengaturnya.

Secara resmi cabang olahraga tenis meja mulai dipertandingkan pada olimipic game ke – 24 tahun 1988 Seoul. Akibat pengakuan tersebut, ITTF diharuskan untuk menambahkan dalam peraturannya yang menyangkut status amatir dan profesional , yaitu pasal 26 dari Olimpic Charter, yang mana pada peraturan sebelumnya tidak ada.

Kepengurusan H. Roys Evans berakhir pada tahun 1987. Sedangkan yang terpilih menjadi ketua baru adalah Ichiro Ogimura dari Jepang.

Ichiro Igimura mendapat dukungan penuh dari para anggota ITTF Asia, Afrika dan Amerika Latin sehingga memenangkan pemilihan dengan angka yang meyakinkan, yakni mendapat 65 suara dari 104 pemilik hak suara.

Perubahan dalam sistem pertandingan mengalami perubahan pada tahun 1991 dalam sistem pertandingan beregu putra, yang pada awalnya mempertandingkan 9 partai menjadi 5 partai.

Rencana perubahannya sendiri dilakukan pada tahun 1989 di kongres ITTF, setelah final kejuaraan dunia pada waktu itu antara China dan Swedia yang berlangsung hampir enam jam.

Sejarah Tenis Meja di Asia

Sejarah Tenis Meja di Asia
Jan Brychta

Permainan tenis meja memasuki Asia melalui RRC, Jepang, dan Korea. Negara-negara tersebut merupakan pelopor perkembangan tenis meja di Asia.

Permainan ini masuk Asia selain India setelah tahun 1910. Namun, usaha-usaha terorganisir untuk memperkokoh kepentingan tenis meja baru berakar pada waktu diselenggarakannya kejuaraan dunia di Bombay pada bulan Februari 1952.

Negara-negara Asia sebagai peserta di dalam kejuaraan dunia tenis meja tersebut memutuskan untuk membentuk federasi tenis meja Asia yang dalam Bahasa Inggris lebih dikenal dengan The Table Tenis Federation of Asia.

Federasi tenis meja Asia telah menyelenggarakan dengan sukses 10 kejuaraan, yaitu:

  • Ke-1 di Singapura tahun 1952
  • Ke-2 di Tokyo tahun 1953
  • Ke-3 di Singapura tahun 1954
  • Ke-4 di Manila tahun 1957
  • Ke-5 di Bombay tahun 1960
  • Ke-6 di Manila tahun 1963
  • Ke-7 di Seoul tahun 1964
  • Ke-8 di Singapura tahun 1967
  • Ke-9 di Jakarta tahun 1969
  • Ke-10 di Nagoya tahun 1970

Beberapa negara Asia kemudian merasa kurang puas dengan TTFA, karena ternyata belum menghimpun seluruh kekuatan di Asia, sebagaimana termaksud di dalam anggaran dasar TTFA.

Pada bulan Maret 1972, perwakilan dari asosiasi tenis meja Cina, DPR Korea, dan Jepang bertemu khusus untuk mengambil inisiatif mengadakan pertemuan pendahuluan di Beijing, Cina.

Pada bulan Mei tahun itu juga pertemuan pendahuluan dilakukan dan dihadiri oleh delegasi dari 16 negara, yaitu Kamboja, Cina, DPR Korea, Iran, Irak, Jepang, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Nepal, Pakistan, Palestina, Singapura, Srilangka, Syiria, dan Vietnam.

Sejalan dengan keinginan keras dari para delegasi, maka pertemuan pendahuluan diubah statusnya menjadi per-temuan pembukaan untuk membentuk Asian Table Tenis Union (ATTU) pada tanggal 7 Mei 1972. Pertemuan menerima komunike dan anggaran dasar serta memilih pengurus ATTU.

Kejuaraan Asian, masa kepengurusan ATTU ke1 dan kongres ATTU ke1 diselenggarakan di Beijing pada bulan September 1972.

Enam kongres ATTU dan kejuaraan Asia telah diselenggarakan dengan sukses di:

  1. Beijing
  2. Yokohama
  3. Pyongyang
  4. Kuala Lumpur
  5. Calcuta
  6. Jakarta

Tujuan dibentuknya ATTU adalah:

  1. Untuk mempererat tali persahabatan antar pemain tenis meja dan rakyat dari negara negara di wilayah Asia,
  2. Untuk memperdalam hubungan persahabatan antar masyarakat tenis meja di Asia dengan mereka dari benua lain.
  3. Untuk mempertinggi popularitas, pengembangan, dan prestasi tenis meja di Asia.

Dasar pokok ATTU adalah persamaan hak serta saling hormat-menghormati antar sesama anggota.

Sampai tahun 1982 ATTU telah mempunyai 32 anggota penuh dari Asia dengan dua associate member dari Oceania.

Sekretariat ATTU di tempatkan di Beijing. ATTU mendapat pengakuan resmi sebagai satu satunya wadah kontinental yang mengatur pertenis-mejaan di Asia dari ITTFF pada tahun 1975 bertepatan dengan penyelenggaraan General Meeting ITTF ke-33 di Calcuta, India.

Sejarah Perkembangan Tenis Meja di Indonesia

Rossy Pratiwi Dipoyanti
Rossy Pratiwi Dipoyanti, salah satu legenda tenis meja Indonesia.

Olahraga tenis meja di Indonesia baru dikenal secara umum pada tahun 1930. Pada waktu itu, permainan tenis meja hanya dilakukan di balai-balai pertemuan orang Belanda sebagai suatu hiburan rekreasi.

Pribumi yang boleh ikut permainan itu hanya golongan-golongan tertentu, seperti anggota keluarga pamong dari balai pertemuan tersebut.

Pada tahun 1939, sebelum pecah perang dunia ke-II, tokoh-tokoh tenis meja mendirikan Persatuan Ping Pong Seluruh Indonesia (PPPSI). Kemudian di kongresnya yang diadakan di Surakarta tahun 1958, PPPSI mengalami perubahan nama menjadi Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI).

PTMSI pada tahun 1960 bergabung menjadi anggota federasi tenis meja Asia, TTFA (Table Tenis Federation of Asia). Setelah itu tenis meja Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak berdirinya hingga sekarang.

Hal itu dilihat dari munculnya perkumpulan-perkumpulan tenis meja, serta banyaknya pertandingan tenis meja yang diperlombakan di arena olahraga tingkat nasional seperti PON, POMDA, dan Porda.

Setelah terdaftar sebagai anggota ITTF pada tahun 1961, Indonesia selalu diundang pada kejuaraan-kejuaraan resmi tingkat dunia.

Selain itu, yang perlu diketahui dalam perkembangan permainan tenis meja nasional adalah berdirinya Silatama (Sirkuit Laga Tenis Meja Utama) yang pertama kali digelar pada awal tahun 1983, hal ini kemudian digelar setiap tiga bulan sekali, serta Silataruna setiap 6 bulan sekali sejak 1986.

WAJIB BACA